
Selamat hari air sobat!
Hari air tahun ini berasa banget cos air dimana-mana, di TV banyak berita banjir, di jalan juga banyak yang menggenang hehe kalau itu sih air tak diinginkan :p Beruntunglah di sekitarku masih (lumayan) terjaga airnya. Maklum di Sleman, yang katanya merupakan daerah resapan air (DRA) bagi DIY dan sekitarnya, masih banyak green space nya-lereng selatan gunung merapi. Meskipun banyak, tapi beberapa tahun belakangan beberapa kontraktor mulai melirik wilayah Jogja utara untuk dibangun perumahan karena permintaan yang cukup tinggi akan 1 dari 3 kebutuhan pokok, papan. Sapa sih yang nggak mau tinggal di daerah yang relative dekat dengan pusat kota, berhawa sejuk, dan pemandangannya indah. Tentunya itu merupakan penawaran yang menggiurkan. Hal ini membuat, mau nggak mau lahan untuk resapan air semakin berkurang di Sleman. Kalau begitu terus, bisa-bisa ada Gunung Lor neh nyaingin Gunung Kidul-Susah air.
World Water (Wet) Day dulu digagas oleh United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Lalu oleh United Nations General Assembly menetapkan (diadopsi) tanggal 22 Maret di setiap tahunya menjadi World Day for Water. Dan sebagai “gong” nya, pada tahun 1993 dituangkan dalam United Nations Conference on Environment and Development dan masuk agenda chapter 18 (Fresh Water Resource), agenda ke 21.
Meski gak terlalu niat mau “merayakan” hari istimewa ini, tapi akhirnya aku mengisi agendaku dengan Walking di TNGM. Mencoba menyusuri DRA di Lereng Selatan Gunung Merapi, tepatnya di Kinahrejo, bersama dua temanku Ipin dan Gonx. Di Dusun Pelemsari Kinahrejo yang merupakan desa dimana Mbah Maridjan tinggal, ada suatu tempat yang bernama “Tuk Pitu” artinya “7 Sumber Mata Air” (sok tau banget). Di Tuk Pitu ini merupakan “mbelik” sumber mata air yang jumlahnya 7 dan berada di satu lokasi. Air dari tempat ini menghidupi warga Kinahrejo yang mayoritas penduduknya merupakan peternak sapi. Tak ayal tuk pitu ini sangat dijaga kelestariannya oleh warga desa. Sekarang sudah dibuatkan bangunan permanen, seperti tandon air dan dipasang pipa-pipa pralon serta besi untuk mengalirkan airnya ke rumah-rumah penduduk. Konon katanya, ada cerita mistis disini. Hehe kebiasaan orang jawa selalu menjadi dengan cerita mistis, but who knows?
Suatu ketika aku mengunjungi rumah mbah Hadi, rumah penduduk yang jadi basecamp kami jika ingin pengamatan ke Kinahrejo. Di sana aku berbincang-bincang dengan Mbah Hadi si empunya rumah. Bicara panjan lebar dan akhirnya nyampai juga ke perbincangan sumber mata air di Kinahrejo ini. Dengan sedikit kebingungan aku berusaha menafsirkan apa perkataan mbah Hadi, katanya suatu ketika mbah Hadi bermimpi bertemu dengan seorang wanita cantik (eh cantik nggak ya…cantik aja deh biar nggak scary banget ngebayanginnya) berbaju putih yang menunjukkan lokasi mata air di Desa Kinahrejo dan memintanya untuk menjaga mata air itu. Katanya kalau mata air itu dijaga, maka hidupnya akan “Slamet”. Keesokan harinya mbah Hadi mencari dan akhirnya menemukan juga sumber mata air yang sampai saat ini rajin dibersihkan dari kotoran dan daun-daun kering. Katanya sumber mata air itu tidak pernah berhenti mengalir, tambah istri mbah Hadi yang nampak “sumringah”. Sumber mata air itu seperti “tuk pitu” dimanfaatkan oleh warga Kinahrejo, dijaga kelestariannya dan kemistisannya.

Bagaimana warga kinahrejo menjaga sumber mata air itu? Mereka tidak menebangi pohon yang ada di kawasan TNGM, mereka hanya merumput di areal-areal perumputan yang sudah ditentukan oleh rapat desa. Bahkan oleh bantuan pemerintah, tahun lalu mereka menanam ribuan bibit pohon untuk menghijaukan lereng-lereng dan pinggir jurang. Tak terkecuali kawasan yang terkena lahar panas di kawasan Mbebeng.
Itu cuman cerita saja, hari itu kami tidak mengunjungi tuk pitu, tetapi lebih keatas lagi mengikuti aliran sungai kecil yang mempunyai sumber mata air berbeda. Di sepanjang perjalanan, gemericik air terdengan merdu diselingi suara parau Gagak hutan Corvus enca dan lengkingan Kepodang sungu gunung Coracina larvata yang mirip suara raptor. Airnya jernih dan dingin menyegarkan, andaikata air-air ini mengalir langsung ke rumahku, pasti aku batah lama-lama di Bathroom (ups….boros air donk, untung nggak). Di sebelah kanan jalan setapak, ada suatu gua kecil (sebetulnya bukan gua juga) yang mengeluarkan tetes-tetes air dari atas. Setelah beberapa waktu mengaguminy a (padahal nampak menyeramkan), kami mulai tertarik dengan raptor yang sering sekali muncul, mulai dari Elang Ular Bido Spilornis cheela, Elang Hitam Ictinaetus malayensis, sampai (so lucky we are…) Elang Jawa Spizaetus bartelsi. Kami melanjutkan perjalanan dengan mulai menaiki bukit yang lain. Di sepanjang jalan cukup banyak hal menarik, bunga di tepi jalan, kupu-kupu tanah, paku-pakuan, pakis, dan anggrek gunung. Sepertinya daerah ini jarang dilewati oleh para pendaki, berbeda dengan jalur kinah ke pethit opak. Di jalang tidak satupun ditemui sampah plastic atau bekas pembungkus makan. Wah semakin ringan saja tugas kami, karena tidak ada yang harus (susah-susah J ) kali pungut. Bushnell satu-satunya binokuler yang dibawa ipin segera bisa mengidentifikasi burung-burung mungil yang bergerak gesit di ranting-ranting pohon seperti the most ordinary bird Cucak kutilang Pycnonotus aurigaster , my lovely bird Bentet kelabu Lanius schach, the
bright Sepah gunung Pericrocotus miniatus, flying Uncal loreng, mugger Kekep babi Artamus leucorhyncu, Munguk bledu Sitta frontalis, blinky bird Burung madu gunung, Kacamata biasa Zoosterops palpebrosus, dan charming Kepudang kuduk hitam Oriolus chinensis. Dalam perjalanan menuju puncak bukit (yang belum pernah kujajahi sebelumnya) kami terhenti oleh sekelompok monyet makaka yang sedang bercengkrama dan sering sekali mengeluarkan suara-suara kejantanan sang kepala gerombolan. Bukan karena ingin mengamati, tapi kami agak-agak takut juga. Ntar kalau nekat malah di “grawut” kethek. Akhirnya kami memilih berhenti dan menunggu mereka pergi, lagian aku juga sudah ngos-ngosan dan mulai kelaparan.


Dalam duduk kami, sekelebat bayangan besar mendekati, sayapnya yang lebar itu mengagetkan kami, dan biasa lah….aku panic. Ipin segera mengidentifikasinya. Ternyata burung itu adalah Elang Jawa. Bayangkan, moment yang baru pertama kali aku alami. Aku berasa jadi prey saja. Bersimpuh di tanah sampil menunduk dengan seekor alang fantastic di atas kami, tak lebih dari 10 meteran, soaring berputar 2 x untuk kelanjutnya bertengger di pohon pinus di depan kami. Tak kulewatkan kesempatan kami untuk mengabadikannya. Gonx bersungut-sungut ketika kamera zoom 18x optic 8 mpixel nya mati tiba-tiba-lowbatt. Hanya pocket ku saja yang sempat menembaknya, meski blawur. Wow…….!

Lama nunggu akhirnya kami ambil jalan lain yang extreme, aku harus merambat keatas dengan lereng berelevasi hamper 90 derajat sepanjang 50 meteran. You know, its not easy for 70 kgrams girl. And then finnaly kita nyampai diatas bukit yang Subhanallah….indah banget. Sensasinya dingin menyegarkan (kaya permen dunk), semilir dan hijau sekali. Dari atas bukit ini kita bisa lihat bukit-bukit lain yang dahulunya pernah kita daki, Plawangan-Turgo-Bukit Bionic. Kami duduk bertiga dan mulai menikmati pemandangan disana. Lihat, ada sarang takur di pohon tua……ada juga pohon penuh bunga dan mirip sakura putih. Aku mulai nyletuk, “kita namai apa ya bukit ini?” hahaha kebiasaan, kalo ada tempat bagus, pengennya mengklaim. Akhirnya ipin bilang, Bukit Semilir aja, karena diatas sini semilir banget. Ok deh kita namain bukit ini Bukit Semilir / Blowing Hill Bionic! (biar mudah nyebutnya, bukan untuk maksud territory)
Yah begitulah ceritaku, cukup menyenangkan juga perayaan hari air tahun ini. Untuk menjaga agar air terus mengalir ya dengan menjaga daerah resapannya, menjaga hutan beserta isinya. Menanam pohon, selain membersihkan udara dengan menyerap CO2 juga berguna untuk mengikat air dalam tanah. Jadi efek simultan baik ini akan tetap membuat bumi kita selalu tersenyum karena penghuninya sudah mulai mengerti dan peduli bahwa bumi satu-satunya tempat persinggahan kita di dunia fana yang kudu dijaga
. Halah…..hehehe ini yang membuatku menyukai Birdwaching, selain menjadi penghibur hati juga bisa meningkatkan kepedulianku sama lingkungan…Hidup Birdwaching…Hidup Bionic!
pameran Foto :

