BIONIC's posts with tag: pemanasan global
BUMI MAKIN PANAS : ANCAMAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA  “Perubahan iklim ataupun pamanasan global adalah isu yang masih asing bagi kita, orang Indonesia. Tanpa disadari dampak dari perubahan iklim itu sendiri sudah dapat kita rasakan. Musim kemarau yang semakin panjang serta musim hujan yang semakin pendek periodenya – namun semakin tinggi intensitasnya. Hal ini kemudian berdampak pada berbagai aspek kehidupan manusia, seperti kekeringan, gagal panen, krisis pangan dan air bersih, banjur dan longsor, wabah penyakit tropis, dsb. Perubahan iklim jelas menyengsarakan kehidupan umat manusia. Kerugian materi dan juga korban nyawa adalah akibat yang harus kita terima. Oleh karena itu, sudah saatnya kita, pemerintah, industry dan masyarakat, bahu membahu berupaya untuk menghambat terjadinya perubahan iklim MARI KITA BERTINDAK SEBELUM TERLAMBAT!”  Buku menarik yang diterbitkan oleh Pelangi dan Kementrian Lingkungan Hidup RI BISA DOWNLOAD DISINI
Link: http://akubelajarhijau.wordpress.com/blog Aku Belajar Hijau memiliki tujuan untuk memberikan informasi kepada anak-anak melalui orang tua dan guru. Anak-anak harus terus diberi informasi yang baik dan diperlihatkan agar mereka bisa merasakan pengalaman akan berbuat baik bagi lingkungan.
Konversi minyak tanah ke gas enggak lantas membuat masyarakat beralih menggunakan gas untuk keperluan rumah tangga. Sementara minyak tanah yang masih diandalkan (karena lebih terjangkau) ternyata sulit untuk didapat. Kelangkaan minyak tanah di kota Yogya beberapa hari ini membuat Pak Wiyono misalnya, memilih untuk memangkas dua pohon sengon yang tumbuh di samping BIONIC's Base Camp (BBC) tercinta demi mendapatkan setumpukan kayu bakar.
Senin (14/04), dua pohon sengon di samping BBC ini tinggal batang-batang tegak. Sebelumnya, rindang tajuknya bahkan mengundang kehadiran burung-burung macam bondol jawa Lonchura leucogastroides, madu sriganti Nectarinia jugularis, gereja erasia Passer montanus, cinenen kelabu Ortothomus ruficeps dan burung dara peliharaan tetangga sebelah. Atas nama global warming mungkin kita segera menyalahkan tindakan Pak Wiyono ini. Ya, di kala tiap hal kecil dalam upaya mencegah pemanasan global begitu diperhitungkan, penebangan pohon atas alasan apapun jelas keliru.
Tapi, jelas lebih keliru kalau memandang segala sesuatu hanya dari satu sisi. Paling enggak ada dua hal yang mari jadikan itu pertimbangan untuk menilai tindakan Pak Wiyono. Pertama, coba bandingkan yang dilakukannya dengan sumbangan polusi udara dari kendaraan bermotor kita, pabrik atau industri. Bandingkan dengan fenomena gunung es kasus pembalakan liar yang baru secuil terungkap di Ketapang baru-baru ini. Bandingkan dengan jumlah gelondongan kayu senilai 400 milyar yang diselundupkan ke Malaysia dengan cukup hanya menyodorkan uang pelicin 120 juta. Sementara Pak Wiyono melakukan penebangan pohon hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup, sekadar memeroleh setumpuk kayu bakar.
Kedua, toh Pak Wiyono bukan orang yang serakah dan berpikir tebang habis. Ia ternyata cukup arif dengan membiarkan batang pokok pohon-pohon sengon itu tegak. Kelak 1 tahun dari sekarang, pohon-pohon itu kembali menampilkan hijau tajuk rindangnya. Kearifan yang enggak dimiliki oleh para oknum dan cukong kayu yang terlibat dalam tebang habis pepohonan di belantara hutan sana. Yang dilakukan Pak Wiyono persis sebagaimana jargon konservasi yang mengumandangkan pemanfaatan secara lestari. Sesuatu yang menunjukkan kalau Pak Wiyono pun (lebih) berjiwa konservasi tanpa butuh terlebih dahulu berpusing-pusing menghapalkan arti konservasi (dibanding aku).
Kalau toh Pak Wiyono tetap dipersalahkan, berilah kemudian satu solusi. -IT
“Wah ngapusi OTW-on the way- aku wes wareg benget. Do tekan endi je?” Sms teman kami, yu ime, yang sudah sedari tadi nunggu kami di Warung Sido Semi Kota Gedhe. Padahal kita masih ngantri bensin di pom bensin sekitaran Bantul utara.(ternyata saat itu yu Ime sudah menghabiskan satu mangkok es kacang ijo, peyek dan pangsit).
Bionic berencana untuk mengikuti Climate Change Photo Competition yang diselenggarakan oleh British Council dan Flickr. Dalam lomba ini sebenarnya mereka ingin mengkampanyekan stop global warming . “This competition is about the small things that we can all do to solve global warming - because we believe that “every little helps”. We want you to take a digital photograph or a series of photographs to demonstrate that “Every little helps” and that small things are important. Think about, for example, shopping, transport, energy, leisure activities and the many other things we do in our daily lives.” Nah itu yang menjadi alasan kami untuk menyeberangi kota Yogyakarta untuk menuju Bantul, tepatnya di Kota Gedhe. Karena deadline tanggal 31 Maret, yang merupakan hari itu juga. Sebenarnya banyak ide untuk dijadikan tema foto yang akan kami kirim hasil masukan teman-teman lain. Tapi yang memungkinkan dan menarik di “eksekusi” (istilah om Imam) adalah Warung berumur tak kurang dari 50 tahun. Menemukan Sido semi di jalan njlagran (nek nggak salah) memang agak sulit karena dari luar saja nggak mirip kayak warung, malah seperti rumah biasa saja dengan jendela kayu kuna yang lebar. Tanpa sungkan-sungkan langsung saja kami memilih tempat di pinggir jendela, ben adem. Di sebelah kanan kami tertera menu makan yang sudah terpampang disana cukup lama, sama lamanya dengan umur Sido Semi. Harganya dan ejaannya saja masih kuna, ada minuman yang harganya sak kethip (mata uang mana…itu). Dengan harga sekara, naek beratus-ratus kali lipat. Meja dengan toples kuna berisi peyek nampak setengah kosong, aku sih tidak tertarik. (bikin jerawat aja…). Mulai deh kami memesan makanan. Ada bakso, simple aja isinya bebebraa butir bakso lembut tahu dan mie kuning; es jeruk, yang ini rada beda karena ada kolang kaling sama nanasnya; limun rasa sarsaparilla, satu satunya soft dring botolan sebangsa coca-cola tapi yang khas adalah tutupnya yang re-use; es coklat, yang ternyata es buah dengan susu coklat; es kacang ijo, ini yang jadi favorit warung ini, isinya kacang ijo rebus ketan putih pulen dan santen…mak nyusss; trus ada susu kedelai dll. Kenapa warung ini unik? Ya iyalah, barang kuna pasti unik…. Nggak itu juga sih, menurut kami warung ini adalah potret warung yang tetap menjadi idola meski dengan pelayanan minimalis….dan tentu saja SOLVE GLOBAL WARMING. Solve GW? Ada banyak alasan bro… (1) disini minimalis listrik, dengan jendela lebar membiarkan sinar masuk merangi ruangan, meski agak temaram juga - lampu kethap kethip (2) nggak ada yang namanya sedotan, semua diminum langsung dari sendok dan bibir gelasnya-dikokop (3) nggak ada kipas angin listrik apalagi AC, yang disedikan disini adalah satu renteng kepet, sebangsa kipas tangan yang dibuat dari bamboo, mirip yang dipake penjual sate, (4) gak ada tissue makan, yang ada hanya satu serbet yang di gandulin di tembok-one for all (5) lokasi dan atmosfernya cozy kapluk, jadi nggak ada tuh rehap-rahap ganti lantai kermik trus meja triplek, malahan ruang sebelah masih berlantai tanah (6) alat masak yang dipake juga gak berlistrik, misalnya saja penghancur es-masih pake serutan besi yang diputer berwarna ijo, apa lagi ya…(7) oya, bisa skalian blajar aksara jawa-nguri uri kabudayan jawa karena banyak ulisan-tulisan di dinding yang pake aksara jawa dan menuliskanya menggunakan kapur . Filosofi nya strong, misalnya ada wejangan “ilat ulat ulah sing bener”. Pokoknya nggak sembarang warung deh….Kalian kalo ke jogja kudu coba deh… Oya ternyata di sebelah utara Sido Semi adalah Makan Kota Gedhe yang satu komplek dengan Masjid Agung Kota Gedhe. Dan kebetulan juga disana lagi ada pentas Jathilan. Nggak disia-siain liat atraksi makan kelapa langsung dari sepetnya dan beling ples kembang diiringi alat music kenong. Kami juga tidak melawatkan nyambangin masjid agung dan sendang putri dan jaler yang dikeramatkan. Katanya bisa bikin awet muda dan enteng jodoh, wah kalo kami sih berharap enteng lulus dan enteng body, hehe. Sore menjelang, kita harus mengakhiri perjalanan kuliner dan budaya di Kota Gedhe. Tapi sebelumnya mampir dulu ke penjual jamu peres di pinggiran jalan. Om imam yang belum pernah merasakan minuman penambah stamina khas jawa, kami paksa untuk minum jamu ples telur madu. Yang nangis bukan hanya om imam saja, tapi kami bertiga-yu ime sist naring dan cool. Kami nangis karena menertawakan om yang menjap-menjep berusaha menghabiskan segelas jamu kuat. Jawabnya ketika ditanya gimana rasa jamu itu, “rasa….nggak pengen lagi deh nyobain”. Tangah malamnya…Email successfully sended…tinggal nunggu deh hasilnya. Meski gak menang tapi kami sudah menang kok…menang pengalaman. Hehehe. Salam Cool-pang lihat fotonya? klik sini
Birdlist : Passer montanus – Burung gereja Cinenen kelabu Bentet kelabu Tekukur biasa
Mmmm apa lagi ya? Ada juga capung albino, lele albino, girami, tawes, dll semua ada di areal tempat mandi putri
(pssssstttt….jangan bilang bilang ya sobat, karena BIONIC ikutan lombanya supporterWWF-Hot Blog For Cool Earth, jadi nggak afdol kalo nggak nampilin artikel Global Warming & Living Green) Kita nulis, kita baca, kita tau, kita peduli dan [berusaha] kita lakukan. Berawal dari kegiatan Ajur* BIONIC Edisi Juni 2007 yang mengambil tema KONSERVASI membuat aku jadi lebih “melek” Global Warming & Green Living. Kenapa? Aku dengan seorang temanku, Feby, “ketiban sampur” atau kedapetan giliran untuk menyampaikan materi ini. Sempet mumet juga, bingung kudu nyampein apa. Alhasil dengan lokasi di Taman Bermain Telaga Nirmala & Gardu Pengamatan Burung di Cagar Alam Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi Jogja kami menyampaikan materi (tentu saja dengan cara kami….kekekekkk). Materi utama sih konservasi, tapi ada additional goal yaitu Global Warming & Living Green. Lagian antara konservasi dan penyelamatan bumi itu kan masih satu piring… :p Awalnya baca tentang global warming itu serius dan “wah” banget, kaya film nya Al-gore. Kalo yang dicritain mumet-mumet dan rumitnya malah orang-orang pada males (keliatannya berat). Makanya nyampeiinnya yang simple aja, trus bicara tentang yang bisa kita lakukan bukan yang bisa kita pikirkan aja (sebenarnya ini terkait juga dengan kapasitas otakku yang limit he2). Ok well, ngabisin listrik juga neh kalo berlama-lamaan basa-basinya… Kita lihat aja, apa aku masih bisa mengingat materi itu, Wish Me Luck Ya… First page ….  Second page …..  Last page ….  Selain itu…? Banyak cara sederhana lain yang dapat kita lakukan untuk memperlambat (aku nggak bilang STOP lo..) Global warming. Hiduplah dengan sehat, cerdas (well…little bit upper than dummies) dan atas pertimbangan ramah lingkungan. Bahasa kerennya Oprah adalah LIVING GREEN. ü Dummies (D) : (setidaknya) buang sampah di tempatnya; Smart (S) : Memilah sampah, yang organic bisa di buat kompos skala RT dengan IM4 atau vermicomposting, sampah non organic bisa di daur ulang yang penting jangan dibakar! ü D : Hemat listrik, Matikan alat-alat elektronik kalo lagi nggak dipake; (S) : Smart use, jika mematikan alat listrik jangan hanya pada switch on/off nya saja tapi cabut kabel dari stopkontaknya-kalo cuman di off kan masih makan listrik, beli alat elektronik yang model baru (biasanya sudah ada lisensi save energy ü D : Hemat air; (S) : usahakan jangan beli air mineral botolan-mending beli galonan karena cost untuk distribusi, recycle botol sampai produksi lagi nggak sebanding dengan harganya. Mending bawa air minum dari rumah dengan container yang nggak sekali pakai. Ingat juga botol air mineral jika digunakan berulang kali (maksutnya hemat) berbahaya juga buat tubuh. Mandi secukupnya, sediakan tanah resapan di sekitar rumah. Pokoke Happy, Smart & healty living! ü D: Jangan kemproh (sifat manusia yang gak peduli sama kebersihan); S : Semakin kemproh kita maka semakin mahal living cost kita. ü D : Pilih yang alami; S : Produk Organik? Meski trend nya lagi mahal tapi jika dilihat dampak positifnya, pilihan ini patut diupayakan. ü D : Luangkan waktu untuk berinteraksi dengan alam, ini akan meningkatkan kecintaan kita pada bumi. ü Ajak orang disekitarkanmu untuk berjuang bersama mu. Jangan menyerah! I know its hard, but it necessary. Apa lagi ya?....... ü Kasus semalam : ada kritik dari adekku lantaran belanja pipet/sedotan. Katanya sedotan hanya untuk bayi dan orang sakit. Ya..ok lah! ü Memasak seperlunya, meminimalisir proses memasak-misalnya habis direbus lalu digoreng setelah itu dibakar ü Jika tidak terpaksa, mengakses internet pada malam hari saja. Luangkan 1 atau 2 jam sebelum tidur. Biasanya mengakses pada jam kerja lemot karena hard traffic, ini membuat proses upload dan download lebih lama. Atau gimana lah cara kita, yang penting hemat. Asal jangan kaya emaknya oneng, hehehehe. Mmmm mending klik disini deh…. Banyak hal-hal yang bisa kita lakukan untuk “STOP GLOBAL WARMING! Yes! We can make a difference” (kata penulisnya) * Ajur-Sekolah BIONIC merupakan kepanjangan dari Ajar Mabur (dalam bahasa jawa jogja-karena UNY ada di Jogja) yang artinya ”belajar untuk terbang”. Seperti kodratnya burung yang akan menjadi dewasa dan terbang, disini kami juga ingin berlajar bersama sehingga someday mimpi, cita dan asa bisa diraih bersama....ceilah. Amin. Ajur yang digelar 1 bulan sekali dibuat dengan konsep yang menarik & berbeda tiap bulannya, ada tema utama sebagai tambahan ilmu, ada tebak burung, ada ”guru”, ada ”murid”, ada diskusi, dan tentu saja ada snack. Semua dari kita untuk kita dan lingkungan sekitar kita.
Kita tahu tentang perubahan iklim sebagai efek dari global warming yang tengah terjadi, begitupun dampaknya. Iklim yang tidak menentu, es di kutub mencair, bencana banjir, intensitas badai yang semakin tinggi, kebakaran hutan, dan sebagainya adalah sebagai contoh. Cuma kalau boleh jujur, terkadang kita acuh atau bahkan tidak memikirkan tentang itu semua karena efeknya yang tidak secara langsung (baca: belum) menimpa kita. Bahwa kenyataannya es mencair di kutub, bukan di Jogja. Tapi, kegiatan pengamatan burung dapat merubah pandangan acuh semacam itu. Melalui kegiatan yang sepintas tidak ada keterkaitannya dengan global warming ini, kita dapat menjadi lebih peduli, mau memikirkan dan akhirnya mulai melakukan sesuatu dalam upaya menekan laju pemanasan global ini. Enggak percaya? Rachel Carson misalnya, penulis buku The Silent Spring yang menghebohkan itu, yang berhasil memengaruhi kesadaran masyarakat Amerika Serikat dan akhirnya berhasil merubah cara pandang masyarakat dunia sehingga lebih sadar dan peduli pada kelestarian lingkungan hidup, mendapatkan inspirasinya dari mengamati burung. Melalui pengamatannya terhadap burung liar ia memperingatkan kepada masyarakat luas di negara asalnya akan bahaya racun pestisida berupa DDT bagi kelangsungan kehidupan. Ia melihat bagaimana efek dari zat pemusnah serangga tersebut bila terakumulasi pada burung liar, mengakibatkan telur yang dihasilkan mudah pecah sehingga mengancam kelestarian hidup burung tersebut, yang pada manusia itu akan mengakibatkan penyakit kanker dan kerusakan genetik. Hal yang menunjukkan bahwa burung adalah salah satu makhluk hidup yang akan merasakan gejala maupun dampak buruk dari apa yang terjadi di lingkungan. Sebagai pengamat burung, kita adalah orang yang dapat membaca gejala buruk itu. Kitalah yang akan terlebih dahulu mengetahui perubahan yang terjadi di alam, dari gejala atau respon yang ditunjukkan oleh burung yang kita amati. Sehingga pantas bila John MacKinnon, penulis buku panduan Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan itu bilang kalau, “pemerhati burung berfungsi seperti mata dan telinga untuk mengawasi keadaan planet kita.” Terkait dengan isu global warming pun demikian. Burung akan merasakan dampaknya, seperti yang terjadi pada burung migran misalnya. Kenaikan frekuensi dan intensitas badai sebagaimana yang terjadi saat ini dapat menyebabkan pergeseran jalur migrasi mereka. Ketidakhadiran burung migran di lokasi yang umum menjadi persinggahannya, atau sebaliknya, kehadiran burung migran di lokasi yang tidak umum menjadi persinggahannya dapat mengindikasikan hal tersebut. Dan siapa yang paling awal mengetahuinya? Ya, kita, pengamat burung. Inilah contoh bagaimana isu gobal warming dan kegiatan jalan-jalan mengamati burung di alam sebagaimana yang jadi hobi kita ini punya keterkaitan. Bahwa ternyata bird watching tidak hanya sebagai kesenangan, namun juga sebagai cara untuk dapat melihat perubahan yang terjadi di lingkungan yang mampu mengasah kepekaan dan memupuk kesadaran serta kepedulian kita untuk lebih menghargai dan menjaga alam. Sebagaimana yang menjadi cita-cita BIONIC lewat slogan “kepedulian di hari ini, kelestarian di masa depan.” Semoga itu tidak menjadi slogan yang hanya sebagai slogan. So, let’s keep bird watching. That’s how we can start trying to cooling down the earth.
-IT
Atas persoalan pemanasan global sebagai krisis lingkungan hidup yang paling mengkhawatirkan saat ini, sudah bukan saatnya lagi bagi kita sebagai mahasiswa untuk enggak peduli dan enggak mau tahu sama persoalan itu. Bahkan kalaupun kita sudah merasa tahu, peduli dan sadar sekali pun, kita dituntut lebih jauh lagi untuk mulai berbuat, melakukan tindakan nyata dan mengambil bagian dari terwujudnya kondisi lingkungan hidup yang lebih baik.
Banyak yang bisa kita lakukan. Mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, menerapkan prinsip ekoefisiensi energi, menghindari gaya hidup boros dan konsumtif serta menanam pohon adalah contoh tindakan yang dapat kita lakukan. Bentuknya bisa jadi sangat beragam lagi, mulai dari membiasakan jalan kaki atau naik sepeda kalau cuma bepergian dalam jarak yang relatif dekat, menerapkan prinsip 3R (reuse-reduce-recycle) dalam mengoptimalkan penggunaan benda, enggak boros listrik dan sebagainya dan sebagainya.
Bisa juga kita ikut bergabung dan terlibat di organisasi lingkungan hidup supaya yang kita lakukan itu dapat berdampak lebih luas, besar dan nyata, menjadikan gerakan moral itu sebagai gerakan komunal yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat banyak. Selain itu, tentu saja sebagai mahasiswa kita harus dapat berjuang lewat tulisan, yakni dengan memberikan informasi, menyebarkan pengetahuan dan memengaruhi masyarakat luas untuk juga mulai bertindak guna mengurangi laju pemanasan global ini. Mungkin efeknya enggak seberapa, namun dengan mengetahui segenap potensi dan kemampuan kita sebagai mahasiswa, kita toh ternyata dapat mengupayakan perubahan.
oleh Imam T (dengan revisi. Pernah mau dikirim ke Koran Suara Merdeka. Enggak jadi)
| |