BIONIC's posts with tag: jalan-jalan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jalan-jalan
Blog EntryBerburu burung di perkotaanApr 2, '08 11:44 AM
for everyone

Kalau harus memilih di mana tempat yang asyik untuk pengamatan burung, pastinya kita akan memilih hutan. Delapan puluh persen jenis burung dapat ditemui di hutan. Udaranya pun segar dan menyejukkan. Pemandangannya indah. Pasti akan lain ceritanya kalau pengamatan burung di tengah perkotaan yang jarang ada tajuk pohon tinggi dan rapat. Hanya ada bangunan, ramai orang dan lalu-lalang kendaraan. Bising dan sumpek.

Tapi dengan segala aktivitas, dominasi & pengaruh manusia terhadap lingkungan perkotaan, bukan berarti di perkotaan tidak ada burung. Di kampus kita ada 27 jenis burung yang bisa dijumpai, di kampus UGM lebih dari 30 jenis termasuk koloni burung yang ada di arboretrum Fakultas Kehutanan & Biologi. Di tempat itu ada koloni cangak abu (Ardea cinerea) & kowak-malam kelabu (Nycticorax nycticorax) yang jumlahnya ratusan. Di Hotel Melia Purosani yang cuma berjarak beberapa ratus meter dari Jl. Malioboro, ada gelatik jawa yang bersarang di bangunan hotel itu. Mereka dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan padat perkotaan. Intinya, selagi masih ada pepohonan, pakan, sumberdaya lain yang dibutuhkan untuk hidup, dan tingkat gangguan atau ancaman yang minim, burung masih punya kesempatan hidup di kota.

Kalau membanding-bandingkan pengamatan burung di hutan dan di kota, hutan memang punya sederet kelebihan. Tapi jangan salah, pengamatan burung di kota pun punya kelebihannya sendiri. Aksesnya mudah, murah dan dekat. Burung-burungnya pun tidak sulit untuk “diburu”.

Lembah UGM

Satu spot yang menarik untuk berburu burung di kota Jogja adalah di kawasan Lembah UGM. Areanya tidak terlalu luas, tapi kalau kita masuk ke sana rasanya seperti berada di dalam hutan. Dengan banyak pepohonan tinggi dan kolam air yang biasa digunakan orang untuk memancing ikan, dengan mudah kita dapat menjumpai burung-burung, misalnya kutilang (Pycnonotus aurigaster) atau merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier). Kalau beruntung kita dapat melihat cekakak sungai (Todirhampus chloris), kareo padi (Amaurornis phoenicurus) atau gemak loreng (Turnix suscitator). Dari Lembah, perburuan bisa dilanjutkan ke arboretrum Fakultas Kehutanan dan Biologi untuk mengamati koloni cangak abu & kowak-malam yang saat ini tengah memasuki musim berbiaknya.

Meski termasuk daerah yang ramai lalu-lalang kendaraan dan aktifitas manusia, misalnya orang bercocok tanam, nongkrong, olahraga, mancing, pacaran, dll. kawasan ini jadi habitat yang cukup nyaman bagi banyak burung. Kawasannya pun dekat dengan kampung Kuningan yang cukup padat penduduk.  

Jadi, enggak harus jauh ke Kaliurang untuk pengamatan burung. Meski cuma punya sedikit waktu senggang, mengamati burung di areal perkotaan pun bisa jadi pilihan. Dekat dan murah. 

-IT


Blog EntryWarung Sido Semi Kota Gedhe-Solve Global WarmingApr 1, '08 11:39 PM
for everyone

“Wah ngapusi OTW-on the way- aku wes wareg benget. Do tekan endi je?” Sms teman kami, yu ime, yang sudah sedari tadi nunggu kami di Warung Sido Semi Kota Gedhe. Padahal kita masih ngantri bensin di pom bensin sekitaran Bantul utara.(ternyata saat itu yu Ime sudah menghabiskan satu mangkok es kacang ijo, peyek dan pangsit).

Bionic berencana untuk mengikuti Climate Change Photo Competition yang diselenggarakan oleh British Council dan Flickr. Dalam lomba ini sebenarnya mereka ingin mengkampanyekan stop global warming .

“This competition is about the small things that we can all do to solve global warming - because we believe that “every little helps”. We want you to take a digital photograph or a series of photographs to demonstrate that “Every little helps” and that small things are important. Think about, for example, shopping, transport, energy, leisure activities and the many other things we do in our daily lives.”

Nah itu yang menjadi alasan kami untuk menyeberangi kota Yogyakarta untuk menuju Bantul, tepatnya di Kota Gedhe. Karena deadline tanggal 31 Maret, yang merupakan hari itu juga. Sebenarnya banyak ide untuk dijadikan tema foto yang akan kami kirim hasil masukan teman-teman lain. Tapi yang memungkinkan dan menarik di “eksekusi” (istilah om Imam) adalah Warung berumur tak kurang dari 50 tahun.

Menemukan Sido semi di jalan njlagran (nek nggak salah) memang agak sulit karena dari luar saja nggak mirip kayak warung, malah seperti rumah biasa saja dengan jendela kayu kuna yang lebar. Tanpa sungkan-sungkan langsung saja kami memilih tempat di pinggir jendela, ben adem. Di sebelah kanan kami tertera menu makan yang sudah terpampang disana cukup lama, sama lamanya dengan umur Sido Semi. Harganya dan ejaannya saja masih kuna, ada minuman yang harganya sak kethip (mata uang mana…itu). Dengan harga sekara, naek beratus-ratus kali lipat. Meja dengan toples kuna berisi peyek nampak setengah kosong, aku sih tidak tertarik. (bikin jerawat aja…). Mulai deh kami memesan makanan. Ada bakso, simple aja isinya bebebraa butir bakso lembut tahu dan mie kuning; es jeruk, yang ini rada beda karena ada kolang kaling sama nanasnya; limun rasa sarsaparilla, satu satunya soft dring botolan sebangsa coca-cola tapi yang khas adalah tutupnya yang re-use; es coklat, yang ternyata es buah dengan susu coklat; es kacang ijo, ini yang jadi favorit warung ini, isinya kacang ijo rebus ketan putih pulen dan santen…mak nyusss; trus ada susu kedelai dll.

Kenapa warung ini unik? Ya iyalah, barang kuna pasti unik…. Nggak itu juga sih, menurut kami warung ini adalah potret warung yang tetap menjadi idola meski dengan pelayanan minimalis….dan tentu saja SOLVE GLOBAL WARMING. Solve GW? Ada banyak alasan bro… (1) disini minimalis listrik, dengan jendela lebar membiarkan sinar masuk merangi ruangan, meski agak temaram juga - lampu kethap kethip  (2) nggak ada yang namanya sedotan, semua diminum langsung dari sendok dan bibir gelasnya-dikokop (3) nggak ada kipas angin listrik apalagi AC, yang disedikan disini adalah satu renteng kepet, sebangsa kipas tangan yang dibuat dari bamboo, mirip yang dipake penjual sate, (4) gak ada tissue makan, yang ada hanya satu serbet yang di gandulin di tembok-one for all (5) lokasi dan atmosfernya cozy kapluk, jadi nggak ada tuh rehap-rahap ganti lantai kermik trus meja triplek, malahan ruang sebelah masih berlantai tanah (6) alat masak yang dipake juga gak berlistrik, misalnya saja penghancur es-masih pake serutan besi yang diputer berwarna ijo, apa lagi ya…(7) oya, bisa skalian blajar aksara jawa-nguri uri kabudayan jawa karena banyak ulisan-tulisan di dinding yang pake aksara jawa dan menuliskanya menggunakan kapur . Filosofi nya strong, misalnya ada wejangan “ilat ulat ulah sing bener”. Pokoknya nggak sembarang warung deh….Kalian kalo ke jogja kudu coba deh…

Oya ternyata di sebelah utara Sido Semi adalah Makan Kota Gedhe yang satu komplek dengan Masjid Agung Kota Gedhe. Dan kebetulan juga disana lagi ada pentas Jathilan. Nggak disia-siain liat atraksi makan kelapa langsung dari sepetnya dan beling ples kembang diiringi alat music kenong. Kami juga tidak melawatkan nyambangin masjid agung dan sendang putri dan jaler yang dikeramatkan. Katanya bisa bikin awet muda dan enteng jodoh, wah kalo kami sih berharap enteng lulus dan enteng body, hehe.

Sore menjelang, kita harus mengakhiri perjalanan kuliner dan budaya di Kota Gedhe. Tapi sebelumnya mampir dulu ke penjual jamu peres di pinggiran jalan. Om imam yang belum pernah merasakan minuman penambah stamina khas jawa, kami paksa untuk minum jamu ples telur madu. Yang nangis bukan hanya om imam saja, tapi kami bertiga-yu ime sist naring dan cool. Kami nangis karena menertawakan om yang menjap-menjep berusaha menghabiskan segelas jamu kuat. Jawabnya ketika ditanya gimana rasa jamu  itu, “rasa….nggak pengen lagi deh nyobain”.

Tangah malamnya…Email successfully sended…tinggal nunggu deh hasilnya. Meski gak menang tapi kami sudah menang kok…menang pengalaman. Hehehe.

 

Salam
Cool-pang

 lihat fotonya? klik sini

Birdlist :
Passer montanus – Burung gereja
Cinenen kelabu
Bentet kelabu
Tekukur biasa

Mmmm apa lagi ya? Ada juga capung albino, lele albino, girami, tawes, dll semua ada di areal  tempat mandi  putri


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help