Ke Turgo, Sabtu (29/03), tujuanku cuma satu, untuk ngamati sarang cabe gunung yang ku jumpai pertama kali pada Selasa (18/03), 11 hari sebelumnya. Meski berangkat enggak sendiri, bareng Cahyadi, Ipey dan Ipin, tapi cuma aku yang pengamatan sarang. Yang lain naik ke puncak Turgo. Cahyadi ngambil data penelitiannya, ditemenin Ipey & Ipin yang pengamatan burung pake bino baru tapi bekas, pemberian Thomas, orang Swedia temennya Mehd.
Sekitar jam 09, setelah memisahkan diri, aku mulai cari posisi yang enak untuk pengamatan. Dengan senjata lengkap, monokuler dan kamera digital pinjeman dari Naring, ku pilih posisi jongkok di tengah area penduduk yang sedang ditanami singkong, sekitar 3 meter dari sarang. Tapi karena angle kurang enak, ditambah nyamuk dan ulat bulu yang nakal mengganggu, akupun terpaksa menyingkir. Sambil menggaruk beberapa bentol di tangan, muka dan kaki, aku cari posisi lebih ke bawah, di barat sarang, sekitar 7 meter darinya. Ku tegakkan lagi tripod. Kali ini pengamatanku dalam posisi berdiri. Dan sampe akhirnya memutuskan untuk pulang 3 jam kemudian, aku tetap di sana, pengamatan dari tempat itu.
Dusun Turgo tempatku pengamatan ini berada di ketinggian hampir 900 m dpl, sementara puncak Bukit Turgo yang lagi dijelajahi Cahyadi, Ipin & Ipey mencapai 1.300 m dpl. Selamat ngos-ngosan buat mereka bertiga… Meski cuaca saat itu enggak terlalu bagus, dengan awan putih menutupi langit, tapi selagi enggak berkabut atau hujan, pengamatan enggak terlalu masalah.
Di Sini Ada Sarang
Si cabe gunung yang penyebarannya hanya terbatas di Jawa, Bali dan Sunda Kecil ini bersarang di pohon akasia yang tumbuh di halaman depan rumah retribusi, tempat yang biasa digunakan untuk parkir kendaraan pengunjung Turgo. Unik memang, karena sarang itu ada di dekat hunian, dekat manusia dengan segala aktifitasnya dan otomatis rentan gangguan. Tapi, burung cabe gunung itu ternyata memilih untuk bersarang di sana. Masa’ musti digusur atau disuruh pindah?!
Pohon akasia tempat sarang cabe gunung itu kecil aja. Tingginya paling sekitar 4-5 meter. Kanopinya enggak rapat, tapi cukup untuk menyembunyikan sebuah sarang di sana. Sarang tersembunyi dengan aman di sela-sela dedaunan akasia. Bergayut di sebuah ranting, siapa yang menduga ada sarang cabe gunung, burung yang hanya hidup di ketinggian 800-2.400 m dpl itu.
Letak sarang sekitar 3,5-4,5 m dari permukaan tanah. Berbentuk bulat lonjong dan berukuran sekitar 12-15 cm secara vertikal. Kalau menduga materi penyusun sarangnya, itu kayaknya campuran antara ilalang dan paku-pakuan. Di MacKinnon disebutkan, sarang jenis-jenis burung cabe terbuat dari dedaunan dan rerumputan yang dijalin dengan jaring laba-laba. Kemungkinan besar jaring laba-laba itu difungsikan sebagai perekat. Lubang sarang menghadap ke barat dengan panjang sekitar 8 cm dan lebar sekitar 5 cm, terletak di bagian atas dekat ranting tempat bergayutnya.
Di buku Sunbirds, yang mengulas dengan detil burung-burung pemakan nektar—termasuk jenis burung cabe—info tentang sarang burung ini tertulis unknown. Informasi terkait sarang cabe gunung belum diketahui. Buat penulis buku itu, “Pak penulis, di sini ada sarang…”
Dua ekor anakan
Pertama mengamati, sebuah paruh mungil lancip, yang chubby pada pangkalnya, berwarna kuning terang, menyembul dari dalam sarang. Wuih, makin semangat aku… Awalnya ku pikir sang empunya sarang baru sibuk-sibuknya sambatan, membangun sarang, tapi ternyata malah udah dalam kesibukan mengasuh anak. Enggak lama kemudian, satu paruh mungil lain terlihat.
Dua ekor anakan ini matanya masih belum berfungsi, masih tertutup. Bagian atas tubuh berwarna biru gelap, belum ada bulu jarum yang tumbuh. Perkiraan, baru beberapa hari aja umurnya, seminggu atau lebih mungkin. Belum basi juga untuk ngucapin selamat, welcome to the wild, children...
Meski mirip, dua anakan ini bisa dibedakan. Yang satu memiliki warna hitam pada ujung paruh bagian bawah. Ukurannya pun sedikit lebih besar. Yang satunya lagi tanpa ada warna hitam dan berukuran lebih kecil. Dari itu menurutku mereka berdua menetas enggak pada hari yang sama, mungkin berselang satu hari atau lebih.
Mereka berdua lumayan kompak. Hampir selalu memosisikan diri di depan sarang dengan paruh sedikit menyembul, siap menerima kiriman makanan dari indukan. Sesekali mereka keluarkan kepala mereka, sambil membuka lebar-lebar paruhnya meski indukan enggak datang. Aku enggak tau apa yang memicunya, mungkin suara, getaran atau instingtif aja. Yang pasti, itu enggak terdeteksi oleh inderaku.
Monster!!!
Satu jam lebih, saat dua paruh mungil lancip itu enggak terlihat, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kemunculan satu makhluk aneh dari dalam sarang. Monster! Berwarna kecoklatan dan ukurannya sedikit lebih besar dari dua anakan itu. Awalnya ku pikir itu induk betina yang enggak pernah terlihat semenjak awal aku mengamati. Tapi bentuknya sangat lain, bukan burung!
Monster itu terlihat menjijikkan. Bentuknya mirip ulat, tapi tanpa bulu. Dia enggak punya paruh, hanya mulut bulat elastis yang darinya keluar kotoran panjang mirip batang jerami (lihat rekaman video Monster Sarang Burung). Iyyakk! Makhluk apa itu?! Sampe tiga kali aku ngeliat kemunculan monster itu. Setiap itu pula aku ngeliat perilaku anehnya. Waktu Ipey & Ipin akhirnya datang bergabung, ku ceritain tentang monster itu. Dan mereka pun akhirnya bisa ngeliat monster itu sendiri. Ipey yang pertama ngeliat, dan spontan bilang, “Iyyaakk!” Tuh kan bener, aku enggak bo’ong, kataku dalam hati.
Ngeliat Ipey seperti itu, Ipin pun penasaran. Dia dengan segera ngeliat juga. Tapi setelah Ipin juga ngeliat, mereka berdua malah jadi punya kesimpulan lain. Makhluk yang ku yakini monster itu dibilang mereka, ya enggak lain dari anakan burung cabe itu. Masa’ sih?!
Setelah ku pikir-pikir, ku amati lagi, yaa… masuk akal juga. Monster itu emang enggak lain dari anakan yang ku amati sedari tadi. Mereka berubah jadi monster hanya karena merubah posisi, dari biasanya menghadap ke depan, saat itu jadi membelakangi. Yang ku anggap mulut bulat elastis itu ternyata kloakanya si anakan. Asem! Iyyakk! Aku, Ipey & Ipin, ternyata beruntung jadi saksi bagaimana anakan burung cabe gunung mpup… Dan imajinasiku akan monster tadi pun jadi bahan tertawaan mereka.
Sadar Lingkungan Sejak Dini
Ngomong-ngomong, si anakan ini tau juga cara menjaga kebersihan sarang. Mereka, dengan monster style nya itu, enggak pup di dalem sarang. Mpup-nya sih di sarang, tapi fesesnya itu dibuang keluar sarang. Sama kayak anakan elang hitam yang pernah ku amati, dan mungkin cara itu juga yang dilakukan oleh semua anakan burung saat masih di sarang. Mereka ternyata juga nerapin konsep dilarang buang sampah sembarangan, sejak balita malah (lihat kembali video Monster Sarang Burung).
Diasuh Bapak
Selama pengamatan, terlihat bagaimana induk melakukan pengasuhan, hanya induk jantan. Seperti yang ku sebut sebelumnya, induk betina enggak terlihat sama sekali. Induk betina yang ku kira ada di dalam sarang, ternyata monster. Dan monster itu enggak lain dari bokong si anakan. Iyyaak!
Pak cabe gunung ini selalu datang dan pergi. Sibuk banget. Saat datang, ia membawa makanan. Melompat-lompat pendek dari ranting ke ranting sampe akhirnya menuju tepat di depan sarang. Bergayut mencengkeram dinding sarang lalu melolohkan makanan yang berbentuk batang, berwarna hijau muda keputihan, yang didapat dari rimbun benalu di pohon sebelah barat, enggak jauh dari sarang. Makanan yang sepertinya adalah bagian dalam dari kembang benalu itupun langsung dilahap dua mulut menganga. Hanya beberapa detik aja, lalu kemudian induk jantan pergi lagi. Terbang ke barat sambil bersuara “tzit-tzit-tzit”.
Selain dari posisi berhadapan, induk jantan juga sekali terlihat memberi makan dari atas sarang, melolohkan makanan sambil bergayut dengan posisi kepala terbalik (lihat rekaman video Acara Makan). Tapi itu hanya sekali, lainnya dengan bergayut di depan sarang.
Selama tiga jam tercatat sebanyak 26 kali induk jantan datang memberi makan. Durasi kedatangannya enggak menentu, sangat bervariasi. Dua kali dalam satu menit jadi yang paling cepat, sementara 40 menit adalah yang terlama. Kehadiran sang bapak di sarang cuma sebentar, dalam hitungan detik. Paling lama sekitar 15 detik aja, selain itu, hanya sekitar 2-7 detik.
Kalau ada yang tertarik untuk mengamati sarang cabe gunung ini, untuk ikut membuktikan keberadaan monster menjijikkan itu, Sabtu (05/04) ayo kita ke sana… jadiin pengamatan rutin tiap Sabtu kayaknya menarik juga. Mungkin ada yang mau jadiin ini penelitian skripsi atau kegiatan praktikum etologi atau sekedar pengamatan biasa, enggak masalah. Kita amati dan dampingi bareng-bareng sampe anakan tumbuh dewasa dan pergi meninggalkan sarang.
Oya, ada yang punya ide nama untuk dua ekor anakan cabe gunung ini? Pi’in dan Pe’ey bagus enggak ya… (Pi’in dan Pe’ey. Asal kata: Ipin dan Ipey. Sebab:mereka ngetawain monster).
-IT