Sebut saja mereka Yadi (5 SD), Fendi (6 SD) dan Agus (4 SD). Pagi itu hari Minggu tanggal 25 Mei 2008, setibanya di lokasi pemantauan populasi Gelatik Jawa (Padda oryzivora), tiga orang anak sudah mendahuluiku. Mereka tengah asik memasang jaring kabut di bibit “Jothak” (sebutan lokal untuk lubang gua vertikal di perbukitan kars Gunung Kidul).
Jothak tersebut merupakan lokasi yang strategis digunakan sebagai lokasi sarang Gelatik Jawa di habitat alami. Struktur tebing batuan kars membentuk stalaktit dengan celah-celah di sisi lain. Celah-celah tersebut yang digunanakan untuk bersarang Gelatik Jawa. Letak sarang menjadi semakin tersembunyi dengan formasi stalaktit di depannya. Dengan diameter +/- 15 meter dan kedalaman lebih dari 50 meter, tempat tersebut juga manjadi lokasi bersarang Walet sarang-putih (Collocalia fuciphaga).
Dari tiga orang anak tersebut terungkap bahwa apa yang mereka kerjakan bermula dari keisengan semata. Layaknya tanyangan ”Si Bolang”, mereka hanyalah bermain. Burung yang ”kadang” mereka dapat biasanya mereka pelihara atau dijual jika ada pembeli. Uang yang mereka peroleh dibagi tiga untuk tambahan uang saku. Sekali berburu belum tentu dapat burung tetapi tentu dapat senang. Selain jaring mereka juga berburu dengan ketapel, alasanya sama dengan kita. Mereka hanya ”gemas” melihat perilaku ataupun bentuk rupa burung yang menarik. Sayangnya mereka belum mengenal binokular ataupun monokular.
Jika mereka dibiarkan tumbuh dewasa mengenal sisi komersil dari seekor burung, bukan lagi bermain yang menjadi motivasi mereka. Pemburu profesional mungkin semakin dekat dengan profesi mereka ke depannya.
Salam lestari,
Jarot