Blog EntryPerangko Burung Punai TanahMay 11, '08 12:07 AM
for everyone

Beberapa hari yang lalu salah satu Bionicers (bala Bionic) dapat surat dari Malaysia. Bukan surat elektronik atau yang berkaitan sama dunia maya. Surat ini benar-benar surat yang dikirim via kantor pos yang sekarang ini mulai menurun peminatnya gara-gara kemudahan akses On-line di segala kondisi, kapan saja dimana  saja (kaya iklan coklat aja). Mau kirim berita, foto atau file tinggal klik (yang ini kaya judul lagu…hehe) dan biaya yang dikeluarin rata-rata jauh lebih murah (indicator utama :P). Kelemahannya ya kalo mau kirim barang gedhe, masak iya kirim bumbu pecel dari Madiun ke Jogja via email? Yang ada di foto dulu….baru di kirim.

Kok jadi OOT (out of topic) neh. Yang mau diceritain bukan isi surat(cinta--disinyalir)nya, tapi perangkonya! Perangko yang berharga 1 RM dan bertuliskan Malaysia ini nampak begitu menarik perhatian. Terang aja, ada gambar burungnya… Punai tanah atau Green-winged Pigeon/Emerald Pigeon (Chalcophaps indica) ini bentuknya seperti burung punai dan dara biasa. Warna kepala atas berwarna putih, sedangkan leher sampai perut bagian atas berwarna ungu kemerahjambuan, sayap seluruhnya hijau zambrut dengan sedikit bercak putih pada pundaknya, pangkal ekor coklat dan loreng gelap terang pada bagian atas ekor. Ya…setidaknya itu yang bisa dideskripsikan dari gambar perangko (padahal aslinya nggak gitu, salah print pak Malaysia....). Ada usaha untuk melihat (mencocokkan lebih tepatnya) di soft file buku Field Guide Jawa Bali dan Sumatra, untuk memastikan keberadaan burung itu di Indonesia. Dan ternyata tidak diketemukan yang mirip (ya iya lah...).

Lanjut ke pencarian identitas burung Punai Tanah, ternyata burung ini dilindungi di Malaysia. Tapi menurut ICUNredlist masuk kategori LEAST CONCERN* (LC). Saya luruskan identifikasi di atas, menurut Avibase burungnya bernama Delimukan Zambrut dan ada di indonesia (Ya...ampun!). Klik wiki aja deh...

Emerald Dove is a stocky, medium-sized pigeon, typically 23 to 28 centimetres (10 to 11.2 inches) in length. The back and wings are bright emerald green. The flight feathers and tail are blackish, and broad black and white bars show on the lower back in flight. The head and underparts are dark vinous pink (in chrysochlora, more brown in longirostris), fading to greyish on the lower belly. The eyes are dark brown, the bill bright red and legs and feet rufous. Nah lo.... beda ma deskripsi dari perangko......Parah, parah tenan. any body can help me? (gasping) Huh....

 

Perangko bergambar burung di Indonesia (terlebih di Dunia) sudah sangat banyak. Entah mulai kapan, bisa jadi sejak orang-orang malas untuk melihat foto tokoh terkenal nampang di perangko , dan itu pasti sudah beberapa abad yang lalu tentunya. Aku mulai sibuk mengeluarkan buku-buku dalam kardus yang baru beberapa bulan lalu aku pack. Kurang kerjaan, cari apa coba? Yak salah…..aku bukan cari Periplaneta sp (kecoak.red), tapi mencari Stamp Album atau Album Peranko yang aku dan kakakku beli kira-kira 15 tahun yang lalu. Warnanya pink dengan gambar beberapa gambar perangko burung di cover depannya. Aku memang hanya punya 1 album itu saja (kebanyakan perangko ku gambar pak Orde Lama), dampak dari booming filateli. Segera kubuka halaman demi halaman untuk mencari perangko yang (tentu saja) bergambar burung. Tidak banyak yang kutemukan, hanya ada 6 perangko burung : Trutu Coklat (Mettapus coromandelianus) 1998, Itik Alis (Anas superciliosa) 1998, Enggang danto (Buceros rhinoceros) 1992, Beo Nias (Gracula religiosa robusta) 1993, Aryat Ambon (Alisterus amboinensis) 1992, dan Cendrawasih Merah (Paradisea rubra) 1982. Sayang nggak ada status konservasinya. Semua belum pernah kulihat di alam, kecuali Beo (bukan sub spesies robusta) yang kutemui di Bukit Turgo TNGM. Emang dasar listku cekak….

Usaha pemerintah untuk memperkenalkan flora dan fauna (actually spesies burung) khas Indonesia pada masyarakat melalui perangko setahuku sudah lama dan banyak juga spesies yang jadi artisnya. Dan sepertinya usaha ini akan mulai ditinggalkan seiring dengan ditinggalkannya metode pengiriman surat via kantor pos. Hanya perusahaan dan kantor yang masih banyak menggunakan cara konvensional ini, terlebih-lebih pemerintahan. Well, bukannya Kantor Pos nggak berusaha menggalakkan, tapi ya gimana lagi (yang lebih murah banyak sih). Coba lihat aja website Perangko Seri Lingkungan Hidup, itu salah satu bukti usaha pemerintah. Dan tau nggak, disisi laen kalo ngirim surat pake kertas, kan nambah-nambahin penggunaan kayu aja… BTW menurut cerita, KPH Purbodiningrat (Yun Prasetyo) menantu Ngarso Dalem dulu waktu akan melamar GKR Maduningrat (GRAj Nurkamnari Dewi ) mengirim surat dulu ke Ngarso Dalem. Untuk waktu dan alasan tertentu, surat dirasa lebih resmi dan formal ketimbang media lain. Dilema…jadi mau kirim surat pake via email atau kantor pos? Atau malah mau sms-an aja? Telpon lebih murah kaleeeee. Jawabannya, terserah anda sendiri…

Beberapa saat aku ngerasa kaya Birdwaching, secara udah lama nggak melakukan aktivitas di alam. Untuk melepas penat dan rindu, mengamati burung dalam (lewat) gambar rasanya cukup mengobati.

SALAM LESTARI!

 

06/BIONIC/II

Nb. Pssssssst jangan bilang” ya kalo aku punya soft file field guide, habis mau beli bukunya gak ada, SOLD OUT! Dan cuman gambarnya doang, gak ada nama apalagi diskripsinya.

 

* A taxon is Least Concern when it has been evaluated against the criteria and does not qualify for Critically Endangered, Endangered, Vulnerable or Near Threatened. Widespread and abundant taxa are included in this category.

birdingatik wrote on May 11
Kayaknya, gambar perangko malah menyesatkan....gambarnya beda sama sket aslinya. Kayaknya Kantor Pos perlu neh jasa Birdwacher...
setapak wrote on May 12
punya soft file field guide
Yang mana ya, kayaknya ada dua terbitan, dari UGM press dan Bogor atau mana gitu. Yg pertama lebih manteb jilidannya, kuat. Yg lain gampang lepas. Oh, BTW saya juga punya field guide sejenis utk burung Australia. Hmmm jadi pengin nulis ttg dunia burung aussie...tapi dikirim ke mana?
bionicers wrote on May 12
setapak said
Yang mana ya
Yang Mc Kinnon LIPI pak, lebih tebal dan (menurut saya) lebih mirip sket gambar dengan aslinya. Mungkin itu yang bapak maksud. kami dukung pak keinginan nulis buku tentang permanukan. Kirim kemana ya? hehe coba ikut milis-milis indonesia, misalnya SBI-Info di yahoogroups, disana banyak "pakar2" burung berkumpul, sapa tau bisa share. Oya, kawan kami beberapa waktu lalu menjumpai Sanderling Calidris alba dengan bendera di kaki di Trisik Kulon Progo. And This bird was flagged in the south east of South Australia yang jauhnya 4482 km dari lokasi penandaan (sudah di approve Australasian Wader Studies Group). Wow.... tunggu ceritanya.... good birding pak...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help