Blog EntryCerita Pak Wiyono dan pohon sengonApr 18, '08 2:33 PM
for everyone

Konversi minyak tanah ke gas enggak lantas membuat masyarakat beralih menggunakan gas untuk keperluan rumah tangga. Sementara minyak tanah yang masih diandalkan (karena lebih terjangkau) ternyata sulit untuk didapat. Kelangkaan minyak tanah di kota Yogya beberapa hari ini membuat Pak Wiyono misalnya, memilih untuk memangkas dua pohon sengon yang tumbuh di samping BIONIC's Base Camp (BBC) tercinta demi mendapatkan setumpukan kayu bakar. 

Senin (14/04), dua pohon sengon di samping BBC ini tinggal batang-batang tegak. Sebelumnya, rindang tajuknya bahkan mengundang kehadiran burung-burung macam bondol jawa Lonchura leucogastroides, madu sriganti Nectarinia jugularis, gereja erasia Passer montanus, cinenen kelabu Ortothomus ruficeps dan burung dara peliharaan tetangga sebelah.

Atas nama global warming mungkin kita segera menyalahkan tindakan Pak Wiyono ini. Ya, di kala tiap hal kecil dalam upaya mencegah pemanasan global begitu diperhitungkan, penebangan pohon atas alasan apapun jelas keliru.

Tapi, jelas lebih keliru kalau memandang segala sesuatu hanya dari satu sisi. Paling enggak ada dua hal yang mari jadikan itu pertimbangan untuk menilai tindakan Pak Wiyono. Pertama, coba bandingkan yang dilakukannya dengan sumbangan polusi udara dari kendaraan bermotor kita, pabrik atau industri. Bandingkan dengan fenomena gunung es kasus pembalakan liar yang baru secuil terungkap di Ketapang baru-baru ini. Bandingkan dengan jumlah gelondongan kayu senilai 400 milyar yang diselundupkan ke Malaysia dengan cukup hanya menyodorkan uang pelicin 120 juta. Sementara Pak Wiyono melakukan penebangan pohon hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup, sekadar memeroleh setumpuk kayu bakar.

Kedua, toh Pak Wiyono bukan orang yang serakah dan berpikir tebang habis. Ia ternyata cukup arif dengan membiarkan batang pokok pohon-pohon sengon itu tegak. Kelak 1 tahun dari sekarang, pohon-pohon itu kembali menampilkan hijau tajuk rindangnya. Kearifan yang enggak dimiliki oleh para oknum dan cukong kayu yang terlibat dalam tebang habis pepohonan di belantara hutan sana. Yang dilakukan Pak Wiyono persis sebagaimana jargon konservasi yang mengumandangkan pemanfaatan secara lestari. Sesuatu yang menunjukkan kalau Pak Wiyono pun (lebih) berjiwa konservasi tanpa butuh terlebih dahulu berpusing-pusing menghapalkan arti konservasi (dibanding aku).

Kalau toh Pak Wiyono tetap dipersalahkan, berilah kemudian satu solusi.

-IT







brownyfe wrote on Apr 20
kalo mempertimbangkan faktor cuaca dan dekatnya jarak antara pohon dan bangunan sekitar aku rasa kalo hanya 'mencukur' pohon ya nggak masalah...malah terkadang perlu.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help